Tambang Galian C di Konut Tabrak Aturan, Pemiliknya Mantan Anggota DPRD Sultra?

152
Design Redaksiana.id
redaksiana.id redaksiana.id

REDKASIANA.ID : KONUT –¬† Maraknya Aktivitas pertambangan di Sulawesi Tenggara tak sedikit pula menimbulkan dampak yang terjadi di Masyarakat.

Salah satunya Aktivitas Pertambangan Tanah Urug (galian C) di Desa Tondowatu Kecamatan Motui, Kabupaten Konawe Utara (Konut), yang kian meresahkan masyarakat dan pengguna jalan.

Pengerukan tanah urug di Desa Tondowatu.

Usut punya usut, aktivitas pertambangan dan Pemuatan tanah urug itu diduga kuat milik Mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara Fraksi PDIP Litanto.

Dimana tanah urug yang dimuat menggunakan jalan umum sebagai jalan hauling itu dikirim ke PT OSS.

Menyikapi persoalan itu, Oschar Sumardin selaku Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Konawe Utara menuturkan, berdasarkan UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan, pada pasal 1 angka 5 disebutkan bahwa jalan umum adalah jalan yang diperuntukan bagi lalu lintas umum.

Ketua GPII Konut, Oschar Sumardin.

“Kemudian pada pasal 1 angka 6 disebutkan¬† jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan, atau kelompok. untuk kepentingan sendiri, “ungkapnya

Selaun itu, berdasarkan ketentuan pasal 1 angka 5 dan 6 UU No 38 Tahun 2004 sangat jelas bahwa jalan umum diperuntukkan untuk lalu lintas umum dan bukan untuk kepentingan badan usaha atau kepentingan sendiri.

“Sehingga seharusnya pengangkutan tanah urug di Desa Tondowatu tidak menggunakan jalan umum tapi harus menggunakan jalan khusus, karena kegiatan tersebut jelas untuk kepentingan usahannya sendiri, “ucap Oschar

Kondisi jalan di Desa Tondowatu, Kecamatan Motui.

Tak hanya itu, pengangkutan tanah urug tersebut menggunakan armada truk yang banyak, dengan aktivitas yang intens dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga akan menganggu para pengguna jalan dan dapat merusak badan jalan/ruang manfaat jalan.

“Dan lebih ironisnya lagi aktivitas penggangkutan material tanah perusahaan tersebut menyebabkan lumpur berhamburan di sepanjang badan jalan, apalagi jalan yang digunakan adalah jalan trans Sulawesi penghubung antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Apabila hal ini dibiarkan berlarut larut bisa menyebabkan korban jiwa, “jelas Oschar Sumardin.

Jalan yang dilakui untuk mengangkut tanah urug di Desa Tondowatu, Motui.

Olehnya itu, dirinya mendesak agar Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk turun langsung melakukan sidak menghentikan aktivitas Pemuatan Tanah Urug di Desa Tondowatu, Kecamatan Motui, Kabupaten Konut, sebelum adanya korban jiwa akibat aktivitas tersebut.

“Apabila dalam kurun waktu yang ditentukan Dishub Provinsi tidak segera menghentikan aktivitas perusahaan tersebut, kami akan turun melakukan penghentian secara paksa, memboikot seluruh aktivitas pengangkutan tanah urug yang menggunakan jalan umum karena hal tersebut telah bertentangan dengan UUD dan mengganggu para pengguna jalan, “tegasnya

Penulis : Falonk

Apa Komentar dan Pendapat Anda