Petani Menjerit, Gusli Ancam Segel Kantor Bulog Konawe

42
Ilustrasi
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID: KONAWE – Munculnya keluhan para petani padi di Kabupaten Konawe soal pembelian harga gabah yang menurun dratis kini sangat memberikan dampak buruk bagi mereka.

Akibatb harganya yang tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan oleh Pemda Konawe, membuat Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara menjadi geram.

Gusli pun juha mengecam apabila Bulog Konawe tidak mengambil tindakan untuk membeli hasil panen petani dengan harga yang sudah ditentukan, pihaknya bersama petani akan menyegel kantor bulog Konawe.

Ditemui di kantornya, Senin (18/5/2020), Kepala Cabang Bulog Unaaha, Nurhayati Ibrahim menuturkan, nilai yang ditetapkan pemerintah untuk pembelian gabah petani kering panen, yakni Rp 4.200 per kg. Sedangkan gabah kering adalah Rp5.300 per kg.

Ia juga menjelaskan bahwa pihak bulog saat ini tidak membeli gabah dari para tengkulak, melainkan membeli beras dengan harga Rp.8.300 per kg. Tengkulak yang membeli gabah dari petani, llu berasnya dijual ke Bulog

“Untuk penggilingan yang bermitra dengan kami saat ini ada 27, tersebar hampir di setiap kecamatan, merekalah yang membeli gabah di petani, “ujarnya.

Saat ditanya, adakah standar harga yang diberikan ke tengkulak saat membeli gabah kering petani, Nurhayati hanya menjawab tidak ada. Pihaknya hanya menetapkan harga sesuai harga dari pemerintah Rp.4.200 per kg untuk gabah kering panen. Setelah jadi beras barulah di beli langsung oleh Bulog.

“Saya tidak tau apakah diluar sana mereka beli kurang dari harga standar pemerintah, yang saya tau kalau suda jadi beras kadarnya sesuai itu yang bulog beli, “ungkapnya.

Sementara itu terkait pembelian gabah kering petani, Nurhayati mengaku kalau Bulog tidak begitu berminat. Sebab, risikonya besar dan bisa menyebabkan kerugian bagi Bulog walaupun Bulog tetap membuka ruang untuk itu dengan menetapkan standar yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Kalau kita beli gabahnya, lalu kita jemur sendiri, tapi kemudian basah, kita bisa rugi. Pemerintah rugi kalau seperti itu, “katanya.

Meski demikian, Nurhayati juga tidak menampik jika Bulog punya mesin pengering gabah yang bisa digunakan. Namun mesin tersebut kurang efektif, sehingga pihaknya tetap memilih untuk membeli beras jadi dari tengkulak atau penggilingan yang bermitra dengan bulog.

Lalu, bagaimana daya serap Bulog terhadap hasil pertanian dalam hal ini beras? Nurhayati mengaku sudah sangat maksimal. Sehari, pihaknya bisa menyerap 100 sampai 200 ton beras dari penggilingan.

“Daya serap kita tinggi. Bahkan besok kita akan mengirim ke Kota Bau Bau. Ini adalah kebanggaan buat kita semua terutama pemda konawe, “jelasnya

Menyoal hal itu, Ketua DPRD Konawe, Ardin juga mendukung pernyataan Kepala Bulog. Ia berharap Bulog tetap bekerja sesuai prosedur.

“Jangan dipolitisirlah, “katanya saat berkunjung ke kantor Bulog.

Sebelumnya, Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara meminta Bulog untuk membantu pemerintah memutus mata rantai “tengkulak nakal” yang kerap memonopoli harga gabah di tingkat petani. Hal itulah yang menuturnya, kerap merugikan para petani.

Bahkan saat ditemui di rumah Jabatannya, Gusli tetap pada pendiriannya. Ia ingin Bulog bersama pemerintah menolong petani. Bukan sebaliknya, yang hanya aktif membeli beras dari tengkulak dan mengabaikan petani.

“Kita ini sebenarnya mau tolong siapa, petani atau tengkulak nakal? Ini yang sedang kami perjuangkan, “kata Gusli

Mantan Ketua DPRD Konawe itu kembali menegaskan, apabila Bulog tidak ikut membeli gabah kering petani, maka petani akan sangat merugi. Sebab, berdasarkan hasil inveatigasinya di lapangan, gabah kering pentani hanya dibeli dengan harga Rp3.500 per kg. Sementara pemerintah sudah menetapkan harga Rp.4.200 per kg.

“Kalau dalam waktu empat kali dua puluh empat jam Bulog tidak membeli gabah kering petani, maka kantor Bulog akan kami segel, “tegas pria yang juga menjabat Ketua DPD PAN Konawe ini.

Penulis : Rido

Apa Komentar dan Pendapat Anda