Moeldoko Rekomendasikan Banser Sebagai Kompcad

196
Kepala Kepresidenan, Moeldoko, saat diematkan selendang pengharagaan oleh Pembina Pesantren RI-1, Habib Abu Djibril Basyaiban.
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID : PASURUAN – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) rekomendasikan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU menjadi komponen cadangan (Kompcad). Struktur yang sudah terbangun jadi salah satu alasannya.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, untuk menjadi komponen cadangan bukan hal yang sulit bagi Banser, karena secara struktural nyata sudah terbangun dan secara uniform sudah memiliki.

“Di samping struktur yang telah terbangun, Banser NU juga telah teruji, memiliki dedikasi, serta nasionalisme tinggi, “ungkap Moeldoko dikegiatan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Senin (24/02/2020).

Foto bersama usai kegiatan dikegiatan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim).

Itulah kemudian, menurutnya. Jika dipersiapkan mulai awal, pastinya akan lebih mudah bagi Banser untuk masuk ke dalam komponen cadangan atau pasukan pertahanan sipil nasional.

“Selain kedisiplinan yang melatih secara fisik dan mental. Banser perlu diajarkan ketrampilan, seperti gunakan senjata, “sambung Moeldoko.

Bila diputuskan sebagai komponen cadangan, ia menilai, Banser bakal siap saat diperlukan, mempertahankan kedaulatan NKRI, “Jadi saya sangat setuju Banser bisa jadi Kompcad, “ujar Moeldoko

Sementara itu Habib Abu Djibril Basyaiban selaku Pembina Pesantren RI-1 sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan Moeldoko di Pasuruan.

Menurut Habib Abu Djibril Basyaiban Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

“Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Banser mulai di dirikan sampai sekarang selalu ada untuk NKRI bahkan mempunyai semboyan NKRI harga mati, “ujarnya

Kata Ansor Banser NU mayoritas santri yang pernah hidup di pesantren di didik selalu untuk cinta tanah air ‘Hubbul Wathon Minal Iman’ (Cinta tanah air sebagian dari iman) dan di Pesantren diajarkan amar ‘Makruf Nahi Munkar Bil Makruf’ (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran dengan cara yang baik).

“Sehingga ketika keluar dari pesantren menjadi kader Ansor Banser NU mereka para santri sudah siap mejaga marwah agama dan bangsa, “pungkasnya

Penulis : Sandi

Editor    : Ifal Chandra

 

Apa Komentar dan Pendapat Anda