LAT Polisikan Ustadz Asal Kolaka, Sebut Tradisi “Mosehe” Mengundang Azab

1106
Ilustrasi REDAKSIANA.ID
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID : KENDARI – Pasca beredarnya video ceramah Ustadz Muzakir yang menyinggung soal Tradisi “Mosehe” suku Tolaki, akhirnya berujung kerana hukum.

Video berdurasi 2 menit 49 detik yang tersebar di Media Sosial (Medsos) itu menyebutkan bahwa tradisi mosehe merupakan bagian dari perbuatan syirik yang dapat mengundang azab dari Allah Swt.

Ceramah yang dilakukan oleh Ustadz Muzakir itu bertempat di Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada beberapa waktu lalu.

Potongan Video Ustadz Muzakir saat menyebutkan Tradisi “Mosehe” Syirik bagi ajaran agama Islam.

Akibat ceramah itu, DPP Lembaga Adat Tolaki (LAT) menyikapi keras soal tradisi “Mosehe” yang disebut-sebut mengandung unsur syirik oleh Ustadz Muzakir.

Ketua LAT, Mansyur Masie Abunawas (MMA) mengatakan, peryataan Ustadz itu sangatlah keliru. Sebab “Mosehe” merupakan tradisi adat yang telah ada sejak dahulu kala.

“Tentunya kami sangat terpukul dan merasa geram soal isi cerama itu, “ucapnya dalam konferensi pers di Kantor LAT Sultra, Senin (9/3/2020).

Konferensi pers para pengurus DPP LAT terkait ceramah tersebut.

“Perlu diketahui bahwa “Mosehe” kami ini bukan hanya ada sekarang ini, tapi sudah ada sebelum ajaran islam masuk ke Indonesia, dan “Mosehe” ini dilaksanakan sesuai adat dan Syariah-syariah agama Islam, “jelas Mansur Masie

Mantan Wali Kota Kendari ini juga mengatakan bahwa “Mosehe” merupakan suatu pengorbanan, namun bukan pengorbanan dalam bentuk penyembahan seperti isi pada ceramah itu.

“Perlu diketahui juga “Mosehe” adalah pengorbanan oleh seseorang dimana dalam suatu acara kami biasa mengorbankan hewan, namun itu bukan penyembahan atau syirik tetapi dari potongan hewan itu kita sedekahkan kepada warga dan meminta doa kepada Allah Swt, “ungkap MMA

Bahkan lanjut Masie, tradisi “Mosehe” juga merupakan salah satu kegiatan suku tolaki yang diakui oleh negara.

“Dan “Mosehe” adalah tradisi yang kami laksanakan dalam rangka perdamaian antar pihak lain yang pernah membuat satu sumpah, “ujarnya

Ketua LAT, Mansur Masie Abunawas.

Olehnya itu ia berharap, untuk kedepannya agar dalam berceramah para Ustadz tidak menyinggung soal adat yang mengandung sara. Sebab kata dia hal itu akan menimbulkan ketersinggungan bagi para pemegang adat serta pengikutnya.

“Jadi saya minta sodara-sodara para Ustadz agar tidak melakukan ceramah di masjid dengan menyinggung soal sara, karena dampaknya sangat berbahaya, “imbau Mansur Masie.

Sementara itu terkait proses perkembangan kasusnya, Bidang Hukum DPP LAT, Khalid Usman SH juga telah melaporkan kasus itu ke Ditreskrimsus Kepolisian Daerah (Polda) Sultra, Jumat (6/3/2020).

Kata Khalid, bersama dengan teman-teman Tamalaki Sultra, barang bukti berupa isi video yang menyinggung tradisi “Mosehe” milik suku Tolaki, juga telah disertakan dalam laporannya.

“Alhamdulillah laporan kami sudah diterima pihak Polda. Skrng kita menunggu saksi dari ahli bahasa dan agama serta saksi akun-akun yang menyebar postingan itu, sehingga kita bisa mengetahui maksud dan tujuan Ustadz itu menyinggung Tradisi “Mosehe” apa, “jelasnya

Bidang Hukum LAT, Khalid Usman SH, didampingi Rais Syuriah NU sekaligus bidang Fatwa LAT Sultra bersama Ketua Tamalaki saat melaporkan kasus itu ke Polda Sultra.

Meski begitu kata Khalid, kalau pun pihak keluarga Ustadz mencoba untuk melakukan perdamaian maka hal itu akan dirapatkan dalam adat.

“Kalau pun nantinya ada pihak keluarga ustadz yang mau melakukan perdamaian, maka kami akan serahkan ke Lembaga Adat Tolaki, karena pelanggarannya di adat dan ini yang harus dilakukan, “kata Khalid.

Sementara itu tradisi “Mosehe” yang disebut Ustadz tidak sesua ajaran agama Islam, Rais Syuriah NU yang tergabung dalan bidang fatwa agama islam LAT menjelasakan bahwa, dalam Hadis Rasullulah Imam Muslim menyebutkan barang siapa dalam umat muslim yang melaksanakan kebaikan akan mendapat pahala, seperti tradisi “Mosehe” yang merupakan perdamaian.

“Hadis Riwayat Muslim menjelaskan, barang siapa didalam agama islam melaksanakan tradisi yang baik maka akan mendapat pahala dan yang mengikuti akan mendapat pahala juga, “ucap Bidang fatwa LAT itu.

Selain itu dia juga menjelaskan, jika ada adat yang memiliki tujuan mengajak untuk kebaikan dan tradisi yang baik, maka dalam syariat islam tidak melarang hal tersebut.

“Jadi tradisi “Mosehe” Itu merupakan kebaikan, dan sepanjang tidak menyalahi syariat islam maka tradisi itu tidak salah untuk dilakukan, karena tidak bertentangan dengan asas-asas dan aturan-aturan yang berlaku dalam berwaraganegara, “pungkas Bidang Fatwa LAT.

Penulis : Falonk

Apa Komentar dan Pendapat Anda