Komitmen PT WSP untuk Warga, Dipertanyakan Anggota Dewan Sekadau

120
Anggota Komisi II DPRD Sekadau, saat melakukan rapat kunker di PT.WSP (Design REDAKSIANA.ID).
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID : SEKADAU (KALBAR) – Komitmen terhadap warga oleh perusahaan hutan tanaman industri PT. Wana Subur Perkasa (WSP) di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), dipertanyakan oleh anggota dewan.

Hal itu disampaikan dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sekadau di Kantor PT. WSP, Jum’at (28/2/2020).

Dalam pertemuan itu, Ketua Komisi II DPRD Sekadau, Yodi Setiawan mengatakan bahwa pihaknya ingin mengetahui secara detail tentang profil, rencana kerja, komitmen CSR, perijinan serta kontribusi PT WSP untuk masyarakat dan daerah.

Kunjungan kerja anggota Komisi II DPRD Sekadau di PT. WSP, Jumat (28/2/2020).

“Kami sering dapat laporan dari masyarakat terkait keberadaan PT WSP ini. Kami di DPRD ini selalu menjadi tempat masyarakat mengadu. Makanya kami datang kesini untuk mencari tahu informasi tentang perusahaan ini. Karena kami di DPRD juga tidak diberitahu tentang kehadiran PT WSP, “ujar Yodi.

Yodi mengungkapkan, pada tahun 2017 lalu telah diterbitkan Perda nomor 1 tahun 2017 tentang CSR oleh DPRD bersama Pemerintah Daerah (Pemda).

Dia pun berharap, setiap investor wajib menjalankan CSR secara konsisten. Bahkan Yodi juga meminta agar PT. WSP lebih serius dalam berinvestasi, supaya dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Kita juga harapkan PT. WSP ini betul-betul menjalankan investasi di Kabupaten Sekadau. Kita sudah memiliki pengalaman perusahaan HTI ada yang sudah lama berinvestasi di Sekadau namun sampai sekarang tidak jelas aktivitasnya. Kontribusinya untuk masyarakat dan daerah tidak ada. Tidak sesuai kesepakatan awal dengan masyarakat. Ini yang tidak kita inginkan, “tegas Yodi.

Sementara itu, Anggota komisi II dari partai Hanura, Liri Muri menyatakan bahwa,pihaknya menyambut baik tiap investor yang ingin menjalankan usahanya di Kabupaten Sekadau. Namun, ia berpesan agar investor menghindari konflik sosial dengan masyarakat.

“Kita ingatkan kalau ada masalah sekecil apapun sedapat mungkin dihindari dan dicari solusinya. Kita menerima investor dengan tujuan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat disamping mencari profit, “ucap Liri

Tak hanya Yodi dan Liri, Anggota komisi II dari PDIP, Ari Kurniawan Wiro juga menuturkan, bahwa kunker tersebut merupakan salah satu bentuk tugas DPRD dalam fungsi pengawasan disamping pengawasan terhadap pembangunan oleh Pemerintah Daerah dan aspirasi masyarakat.

“Bisa saja proses perijinannya dikeluarkan di provinsi. Tapi operasionalnya kan di Kabupaten Sekadau. Kami sebagai mitra kerja Pemda wajib melindungi investor dan masyarakat. Kita bersama-sama menjaga ritme pembangunan, “jelas Ari.

Oelehnya itu, Ia juga mengingatkan agar dalam operasionalnya PT.WSP selalu menjaga kelestarian alam. Sebab kata Ari, rencana kerja perusahaan mesti diselaraskan dengan desain tata ruang wilayah.

“Nanga Mahap ini merupakan daerah penyangga air. Kita minta supaya daerah sempadan sungai tidak digarap dan ditanami. Karena bisa menimbukan kerusakan alam, “bebernya

Menanggapi hal itu, Manajer operasional PT. WSP, Awan Suprianto mengungkapkan, pihaknya memperoleh lahan konsesi seluas 42.735 hektare yang kesemuanya merupakan kawasan hutan produksi (HP).

Di Kabupaten Sekadau, konsesi meliputi wilayah Desa Tembesuk dan Karang Betung serta wilayah Desa Senangak Kecamatan Nanga Taman.

“Lahan konsesi kita 70-an persen yang merupakan kawasan tanam pokok. Sisanya bufferzone dan lain-lain, “kata Awan.

Lanjutnya, sesuai dengan rencana kerja tahun 2020, PT WSL menargetkan 3.200 hektar pembukaan lahan. Kemudian untuk rekrutmen tenaga kerja, kata Awan, tetap memprioritaskan masyarakat setempat.

“Untuk sekarang tenaga kerja eksisting borongan sekitar 300 orang dengan upah standar UMK bahkan cenderung lebih tinggi. Kita tetap utamakan orang setempat khususnya untuk posisi staf,supervisor. Kecuali untuk keahlian khusus, “jelasnya

Selain itu Awan menambahkan, PT. WSP juga telah menjembatani pembentukan koperasi yang dikelola sendiri oleh masyarakat.

“Untuk masa panen estimasinya 5 sampai 6 tahun,” ucap Awan.

Pihaknya, lanjut Awan, juga telah melakukan perkerasan jalan sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan Tembesuk ke Suak Mansi. Pekerjaan tersebut merupakan bagian dari program CSR.

“Untuk tali asih memang relatif kecil. Namun kita arahnya lebih kepada pemberdayaan. Karena nanti semua lahan dikelola oleh sendiri oleh pemilik, jauh lebih bermanfaat, “pungkasnya

Penulis : Yahya Iskandar

Editor   : Ifal Chandra

Apa Komentar dan Pendapat Anda