Jurus Jitu Para Penguasa, Kucing-kucingan Soal TKA, Siapa yang Harus Disalahkan?

183
Ilustrasi
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA. ID : KENDARI – Pasca beredarnya video puluhan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang tiba di bandara Haluoleo Kendari pada Minggu malam (15/3/2020), sontak menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra).

Puluhan warga china yang berada diruang kedatangan bandara Haluoleo Kendari, Minggu malam (15/3/2020).

Bahkan dengan mewabahnya virus corona (Covid-19) telah menjadi momok menyeramkan bagi masyarakat di dunia dan juga berdampak bagi warga negara Indonesia.

Saat ini di Indonesia sendiri sudah tercatat 117 kasus pasien positif terjangkit virus corona. Hal itu berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, yang dirilis pada Minggu (15/3/2020).

Akibat adanya warga Indonesia yang terjangkit virus ini, seluruh Pemerintah Daerah yang ada di Indonesia tak mau kebablasan dan beramai-ramai melakukan pencegahan serta mengantisipasi peredaran Covid-19 yang berasal dari Wuhan Cina.

KILAS BALIK SOAL VIDEO TKA DI BANDARA HALUOLEO

Baru-baru ini, perusahaan asal tiongkok di Morosi siapa lagi kalau bukan Virtu Dragon Nickel Industri VDNi, menjadi konsumsi publik setelah munculnya video berdurasi 00.58 detik oleh salah seorang warga yang saat itu merekam 49 Warga China yang berdatangan di Bandara Haluoleo Kendari.

Dalam video itu, para Warga China yang keluar dari ruang kedatangan Bandara Haluoleo dengan menggunakan masker penutup mulut, sempat diduga oleh warga sultra merupakan TKA yang baru saja datang dari negara asalnya (China).

Warga China yang tiba di Bandara Haluoleo Kendari yang terekam oleh warga.

Akan tetapi hal itu justru dibantah oleh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sultra, Brigjen Pol Merdisyam, saat menggelar rapat pertemuan di Rujab Gubernur Sultra, Minggu Malam (15/3/2020).

PERNYATAAN KAPOLDA SULTRA SOAL WARGA CHINA YANG TIBA DIBANDARA HALUOLEO

Terkait Video itu, Brigjen Pol Merdisyam menegaskan bahwa warga China tersebut merupakan TKA yang bekerja di morosi dan baru kembali ke Sultra usai mengurus perpanjangan Visa kerja di Jakarta.

Kapolda Sultra, Brigjen Pol Merdisyam, saat memberikan peryataannya soal TKA di Bandara Haluoloe dalam rapat pertemuan di Rujab Gubernur Sultra, Minggu Malam (15/3/2020).

“Kami sudah melakukan pengecekan langsung  bahwa benar mereka merupakan TKA yang bekerja di perusahaan smelter tambang di Sulawesi Tenggara, yang kembali dari memperpanjang visa izin kerja di jakarta, dan mereka akan kembali ke morosi untuk bekerja kembali, “katanya

Sembari meyakinkan kepada masyarakat Sultra agar tetap tenang, Kapolda Sultra juga menjamin bahwa para TKA itu telah ditengkapi dengan surat keterangan dari karantina kesehatan dan perizinan dari Imigrasi sebelum kembali ke Sultra.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, hal ini terjadi karena ada yang mengupload sesuai video yang kita terima, “ungkap Kapolda Sultra.

Tak tanggung-tanggung, ia pun menegaskan kepada penyebar video itu bisa dikenakan pidana karena telah menyebar postingan yang meresahakan warga Kendari khusunya dan pada umumnya di Sulawesi Tenggara.

“Dan ini saya ingatkan jangan membuat hal-hal yang meresahkan masyarakat tanpa ada dasar, karena ini bisa dikenakan pada tindak pidana khusunya Undang-undang ITE, “tegas Brigjen Pol Merdisyam.

Dengan peryataan Kapolda Sultra itu masyarakat pun kembali tenang karena telah mendapatkan klarifikasi terkait warga China yang berdatangan di Bandara Haluoleo.

SOAL TKA CHINA DIBANDARA HO, KADIS NAKERTRANS SULTRA SEMPAT ANGKAT BICARA

Berselang beberapa waktu usai Kapolda Sultra memberikan penegasan soal video tersebut, statement berlawanan datang dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadis Nakertrans) Provinsi Sulawesi Tenggara, Saemu Alwi.

Dalam pernyataannya di salah satu media, Saemu Alwi menegaskan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan melalui Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan Kesehatan Kerja RI telah mengkonfirmasi bahwa 49 Warga Negara Asing (WNA) yang masuk melalui Bandar Udara Haluoleo, pada Minggu 15 Maret 2020 bukan pekerja yang mengurus perpanjangan kerja.

“Kalau mereka urus perpanjangan kerja harus melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja di Daerah, tapi kita tidak pernah keluarkan, saya juga sudah melakukan pengecakan di Kementerian tapi data mereka tidak ada, “tuturnya saat dikonfirmasi, pada Senin (16/2/2020) dini hari.

Saemu Alwi juga mengungkapakan, sesuai himbauan Kementerian Ketenagakerjaan, sejak Februari 2020 tidak diizinkan pekerja dari China masuk dan kerja di Indonesia termasuk di Sultra.

“Adapun WNA itu adalah pekerja baru maka seharusnya datanya ada di pusat, tapi faktanya mereka tidak punya data sama sekali sebagai pekerja, “ujarnya

SAEMU ALWI TERLIHAT KETAKUTAN, BANTAH KEMBALI PERYATAANNYA, ADA APA?

Namun anehnya, saat sejumlah media datang menemui Kadis Nakertrans ini untuk keperluan konfirmasi terkait pemberitaan itu, malah justru ucapan tersebut kembali dibantah olehnya.

Kadis Nakertrans Sultra, Saemu Alwi, saat ditemui awak media, Senin (16/3/2020) sekaligus membantah peryataan sebelumnya.

Ibarat lempar batu sembunyi tangan, Saemu Alwi malah seperti terlihat ketakutan dengan postingan judul berita “Kementerian Bantah Keluarkan Izin Kerja 49 WNA yang Masuk di Bandara Sultra”.

Bahkan peryataan yang dikeluarkan Saemu Alwi sebelumnya itu seakan-akan bukan seperti yang dia maksudkan.

“Tolong, jangan kalian benturkan saya dengan pak Kapolda, cermati pernyataan saya baru kalian menulis, “kesal Saemu Alwi saat ditemui awak media, Senin (16/3/2020).

Sambil menjelaskan, Saemu Alwi menegaskan bahwa sesuai himbauan Kementerian Ketenagakerjaan, sejak Februari 2020 tidak diizinkan pekerja dari China masuk dan kerja di Indonesia termasuk di Sulawesi Tenggara.

“Jadi begini pernyataan saya, bahwa sejak maret 2020, Kementrian Tenaga Kerja RI tidak pernah lagi mengeluarkan izin masuk ke indonesia bagi tenaga asing, maka video yang viral tadi malam beredar adalah TKA sudah lama kerja disini dan mereka baru kembali dari Jakarta mengurus pernjangannya izinnya, “bebernya

Pemberitaan ini pun jadi bulian bagi warga di Sultra, sebab apa yang telah dikatakan sebelumnya justru malah dibantah kembali oleh Kadis Nakertrans ini.

KEPALA KEMENKUMHAM PERWAKILAN SULTRA SEBUT TKA ITU BARU BERANGKAT DARI CHINA

Tak lama kemudian, pernyataan yang mengagetkan datang dari Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sultra, Sofyan, pada Senin malam (16/3/2020).

Ia menegaskan bahwa 49 TKA itu adalah TKA yang baru berangkat dari China kemudian transit ke Thailand, sebelum akhirnya tiba di Indonesia.

TKA itu berangkat dari China, lalu ke Thailand, terus tiba di Jakarta  dan sebelum akhirnya tiba di Bandara Haluoleo Kendari, pada Minggu Malam (15/3/2020).

Foto Wiwid Abid Abadi Kumparan (Kendarinesia.id)

“Pertama, para TKA itu menggunakan visa kunjungan yang diterbitkan pada 14 Januari 2020 di KBRI Beijing untuk kegiatan calon TKA dalam rangka uji coba kemampuan berkerja. Lalu, berdasarkan cap tanda masuk pihak Imigrasi Thailand yang tertera pada paspor, mereka tiba di Thailand pada 29 Februari 2020, “paparnya

Kemudian pada tanggal 15 maret 2020 lanjut Sofyan, 49 TKA China itu keluar dari Thailand dan menuju ke Indonesia melalui Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

“Dihari yang sama, 49 TKA China itu tiba di Bandara Sukarno Hatta, mereka kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Selanjutnya, pihak KKP menerbitkan surat rekomendasi berupa kartu kewaspadaan kesehatan pada 49 TKA itu, “jelasnya

Alhasil pada saat itu petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta memberikan izin masuk ke 49 TKA tersebut setelah mereka menunjukkan surat rekomendasi dari KKP Bandara Soekarno Hatta. “Yah kalau tidak ada surat rekomendasi dari KKP, sudah jelas para TKA itu tidak bisa masuk, “ujar Sofyan.

Lanjut Sofyan, setelah tiba di Jakarta, TKA tersebut langsung terbang ke Kendari dengan menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA696.

“Mereka tiba di Bandara Haluoleo Kendari pada Minggu, 15 Maret 2020 sekitar pukul 20.00, “bebernya

Meski demikian, Sofyan mengaku bahwa TKA itu memiliki dokumen perjalanan yang sah dan masih berlaku.

Akan tetapi, ia menyebutkan, bahwa 49 TKA asal China itu belum menjalani karantina sejak tiba di Indonesia.

“Mereka hanya mendapatkan kartu kewaspadaan kesehatan dari KKP Bandara Soekarno Hatta, “ungkap Sofyan.

Herannya lagi, hal itupun justru bertentangan dengan peraturan yang telah dibuat. Dimana bersarkan Peraturan Menkumham No 7 tahun 2020 Pasal 3 Ayat 2 menyebutkan seluruh TKA yang tiba di Indonesia wajib dan harus menjalani masa karantina selama 14 hari sebelum melakukan aktivitas di Indonesia.

“Jadi memang belum, mereka belum di karantina,” “kata Sofyan sembari mengakhiri peryataannya.

Kini perbedaan peryataan itu menjadi tanda tanya besar serta menjadi perdebatan dikalangan masyarakat, dan pada akhirnya menimbulkan pertanyaan bagi warga sultra bahwa siapa yang benar siapa yang salah.

Penulis : TIM

 

Apa Komentar dan Pendapat Anda