Diduga Masih Melanggar, PT Daka Group Terkesan Dibiarkan

298
Ilustrasi design REDAKSIANA.ID
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID : KENDARI – Polemik sejumlah perusahaan tambang yang ada di bumi Sulawesi Tenggara (Sultra) masih saja sering menjadi pertanyaan.

Bahkan belum lama ini, Inspektur tambang mengakui bahwa sejumlah perlanggaran pertambangan oleh PT. Daka Group sering dilakukan.

Hal tersebut mencuat saat Lembaga Analisis Pemerhati Lingkungan (Lestari) Konut menyambangi Kantor ESDM, Selasa (3/3/2020).

Saat menerima massa aksi tersebut, Safar salah satu Inspektur Tambang membenarkan hal tersebut seperti temuan fakta dilapangan.

Kata dia aktivitas pertambangan oleh PT. Daka Group memberikan dampak negatif terhadap lingkungan bagi masyarakat di blok Desa Boedingi, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Meski demikian lanjut Safar, pihaknya juga telah memberikan catatan penting terhadap PT. Daka Group untuk segera membenahi beberapa pelanggaran yang ditimbulkan.

Bahkan Safar mengaku, sejumlah pelanggaran PT. Daka Group itu ditemukan saat pihaknya turun melakukan pengawasan pada September 2019 lalu.

Ada beberapa catatan penting yang diberikan yakni soal penampungan limbah B3, penampungan ore nikel di pinggiran jetty dan pembuatan drainase di sekitar jetty.

“Terkait masalah itu, kami sudah BAP mereka, “ucapnya belum lama ini.

Sementara itu Ketua Lestari Konut, Muh. Fajrin Boma mengatakan, hal yang menjadi sangat prinsip yakni tidak adanya izin Terminal khusus (Tersus) atau jetty PT. Daka Group.

“Kalau PT. Daka Group beralibi dan ngotot mengatakan jika jetty mereka ada izinya, itu bisa dilihat dari posisinya berada tepat di samping SDN 3 Lasolo Kepulauan. Bagaimana bisa pemerintah mengeluarkan izin di dekat sekolah, pemerintah tidak mungkin mengeluarkan izin,” tegasnya.

Tak hanya itu Fajrin juga membeberkan bahwa, PT Daka Group diduga belum memiliki izin Penampungan sementara limbah B3, dan Izin Penampungan Limbah Cair (IPL).

“PT. Daka Group ini juga tidak membuat drainase keliling Jetty. Kemudian, pelanggaran lainnya yang kami temukan adalah tidak ada kolam pengendapan dan adanya penyimpanan ore nikel di pinggir pelabuhan, sehingga jatuh ke laut dan menyebabkan kekeruhan air laut, “ungkapnya

Fajrin juga sangat menyesalkan tidak adanya tindakan tegas dari instansi berwenang, yang terkesan melakukan pembiaran terhadap PT. Daka Group.

Sehingga kata Fajrin perusahaan itu terkesan leluasa mengeruk hasil alam bumi, tanpa kelengkapan dokumen sebagaimana yang diprasyaratkan dalam regulasi.

“Yah saya fikir (dugaan kongkalingkong) bukanlah hal yang disembunyikan lagi, bahwa ESDM itu selesailah di ruangan, itu dugaan kuat kami, “pungkasnya

Penulis : Falonk

 

Apa Komentar dan Pendapat Anda