‘Beking’, Diduga Jadi Tameng VDNi

610
Ilustrasi Design REDAKSIANA.ID
redaksiana.id redaksiana.id

REDAKSIANA.ID : KENDARI – Jika berbicara soal Perusahaan tambang PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNi), mungkin tak akan ada habis ceritanya.

Tambang asal negeri Tiongkok China, yang beroperasi di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) ini, lagi-lagi mendapat kecaman dari beberapa masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Seperti halnya yang dilakukan, Korp Mahasiswa dan pemuda Indonesia (Komando) Sultra saat melakukan aksi Unjuk rasa (Unras) di Halaman Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sultra, Kamis (27/2/2020).

Komando Sultra saat melakukan aksi Unjuk rasa (Unras) di Halaman Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sultra, Kamis (27/2/2020).

Dalam orasinya, Korlap Massa Aksi, Iksan Binsar memberikan ultimatum kepada Polda Sultra.

Kata Binsar ada oknum kepolisian yang diduga kuat membentengi preman-preman di VDNI yang begitu subur bebas berkeliaran.

“Kami meminta Polda Sultra Untuk mengusut pihak kepolisian yang terlibat menjadi tameng untuk preman dalam VDNI, karena besar dugaan kami ada pihak kepolisian yang terlibat sehingga setiap unjuk rasa yang kami lakukan selalu di perhadapkan dengan preman, “ucapnya

Salah satu contoh yang dimaksud olehnya, lanjut Binsar yakni, saat rekan-rekannya hendak melakukan aksi demonstrasi di Kawasan Industri Morosi pada beberapa waktu lalu.

Padahal Demonstrasi yang mereka tujukan pada saat itu, tidak ada kaitannya dengan PT.VDNi. Sebab unras yang mereka lakukan terkait persoalan hutang piutang antara PT. Konawe Putra Propertindo (KPP) dan PT. Andalniaga Boemih Energy (ABE).

Parahnya, saat aksi itu akan dilangsungkan, kata dia, sejumlah preman bertopeng dengan membawa senjata tajam tiba-tiba saja menyerang mereka.

Akibatnya, mereka pun lari berhamburan menyelamatkan diri ketempat aman. Sehingga, demontrasi itupun tidak dilanjutkan demi menjaga keamanan dan kenyamanan warga di sekitar serta mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Yang menjadi aneh bagi kami, kepolisian yang mengawal unjuk rasa tersebut bukannya mengamankan preman yang jelas membawa senjata tajam, tetapi malah mengamankan masa aksi yang menyampaikan aspirasinya, “teriaknya dari mobil pengeras suara.

Sementara itu, hal senada juga disampaikan Ketua Komando Sultra, Ilham.

“Kehadiran kami di Polda Sultra adalah bentuk kekecewaan kami terhadap pihak Polres Konawe yang kami duga memiliki tendensi terhadap VDNI sehingga asas netralitas kepolisian cacat secara konstitusi, “tegasnya.

Lanjut Ilham, dasar kecurigaan dia bersama rekan-rekannya bermula pada saat teman mereka membawa surat pemberitahuan Aksi Unras di Polres Konawe 27 Januari 2020.

Dimana saat itu, ada dokumentasi yang dilakukan oleh oknum polisi kepada rekannya. Dan pada saat itu teman mereka diharuskan membuat surat peryataan bertanggungjawab apabila ada insiden premanisme yang terjadi di lapangan saat Unras.

“Kemudiam berselang beberapa saat, Foto teman kami yang diambil oleh salah satu oknumĀ  kepolisian tersebar di lingkungan PT.VDNI melalui WhatsApp. Sehingga ia kerap mendapat intervensi dan intimidasi dari orang-orang yang tidak di kenal agar tidak melakukan Aksi Unras Di VDNI, “pungkasnya

Laporan : Ifal Chandra

 

Apa Komentar dan Pendapat Anda